Sabtu, 07 November 2015

TANPA JUDUL NYATA
kukosongkan selembar halaman buku-ku namun tak cukup menampungmu,
 meringkasmu menjadi susunan abjad yang kurentangkan sejauh jangkauan pikiranku mengejamu dalam kelamnya waktu, 
dalam kelambu hujan yang riuh bersuara tawamu yang lebih merdu dari sonet Neruda bagi siapa saja yang membacanya dengan takjub. 
selalu saja ada ingatan yang mengakar lalu tumbuh kembali serupa bunga dengan warna yang tak lagi kukenali, lebih indah dari sebelumnya
, tiap kali kutebas setangkai kisahmu dan kuletakkan pada tiap lembar buku yang akhirnya memaujud sosok sempurna; pesona alam subuh yang menyegarkan pikiran tanpa gaduh selepas embun jatuh pada telapak daun yang tak pernah mengaduh meski akhirnya kembali kering oleh matahari dan angin pancaroba yang menabuh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar