TANPA JUDUL NYATA
kukosongkan selembar halaman buku-ku namun tak
cukup menampungmu,
meringkasmu menjadi susunan abjad yang kurentangkan sejauh
jangkauan pikiranku mengejamu dalam kelamnya waktu,
dalam kelambu hujan yang
riuh bersuara tawamu yang lebih merdu dari sonet Neruda bagi siapa saja yang
membacanya dengan takjub.
selalu saja ada ingatan yang mengakar lalu tumbuh
kembali serupa bunga dengan warna yang tak lagi kukenali, lebih indah dari
sebelumnya
, tiap kali kutebas setangkai kisahmu dan kuletakkan pada tiap lembar
buku yang akhirnya memaujud sosok sempurna; pesona alam subuh yang menyegarkan
pikiran tanpa gaduh selepas embun jatuh pada telapak daun yang tak pernah
mengaduh meski akhirnya kembali kering oleh matahari dan angin pancaroba yang
menabuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar